Jam tiga sore, kamu baru selesai menyiapkan proposal desain UI untuk klien di Jakarta. Sambil meneguk kopi hitam, notifikasi WhatsApp berdentang: “Kapan sih kita siapin uang kurban tahun ini? Lebaran udah deket!” Di layar, grup freelancer lagi sibuk diskusi soal tarif proyek yang naik turun. Di sinilah pertanyaan tentang cara menyiapkan dana kurban dan lebaran muncul, padahal alur keuangan kamu tidak tetap.
Berbeda dengan pekerja kantoran yang dapat gaji tetap tiap bulan, kamu mengandalkan proyek, komisi, atau honor yang kadang datang berlimpah, kadang sepi. Karena itu, banyak mitos yang beredar di grup WA atau forum freelancer. Mari kita kupas satu per satu, lalu beri fakta yang bisa langsung kamu terapkan.
Mitos 1: “Kalau penghasilan tidak menentu, jangan cicil. Simpan sekaligus saja”
Fakta: Menyimpan sekaligus memang terasa “lebih aman” bila ada dana besar di akhir tahun, tapi menunggu sampai Lebaran atau Idul Adha datang membuat kamu terpaksa menabung dalam jumlah besar dalam satu kali tarikan. Risiko: kamu harus mengorbankan kebutuhan harian atau malah meminjam dengan bunga tinggi.
Contoh hitungan sederhana. Misalkan target total biaya kurban (sapi atau kambing) dan lebaran (oleh‑oleh, kue, baju) adalah Rp 3.000.000. Jika kamu menunggu sampai bulan Agustus (5 bulan sebelum Idul Adha) dan menabung sekaligus, kamu harus menyiapkan Rp 600.000 per bulan (Rp 3.000.000 ÷ 5). Bila di bulan tertentu pemasukanmu hanya Rp 2.000.000, menabung Rp 600.000 berarti 30 % pendapatan—bisa mengganggu cash flow harian.
Dengan cicilan bulanan yang disesuaikan, kamu bisa menabung lebih ringan saat penghasilan tinggi dan menambah sedikit saat pemasukan menurun. Pendekatan ini mengurangi beban sekaligus menjaga likuiditas.
Mitos 2: “Cicilan hanya untuk barang konsumtif, bukan ibadah atau tradisi”
Fakta: Cicilan hanyalah metode menyalurkan uang secara teratur, tidak peduli tujuannya. Selama kamu mencatat dan menepati jadwal, cicilan untuk kurban atau lebaran tidak berbeda dengan cicilan gadget.
Di aplikasi Receh, kamu bisa buat kategori “Kurban & Lebaran” dan set target bulanan. Misalnya, kamu memutuskan menabung Rp 200.000 per minggu. Dengan 4 minggu per bulan, target bulanan menjadi Rp 800.000. Selama 6 bulan, kamu sudah mengumpulkan Rp 4.800.000—lebih dari cukup untuk kurban premium sekaligus belanja lebaran.
Mitos 3: “Jika penghasilan turun, harus berhenti cicilan dan menunda kurban”
Fakta: Alih‑alih alur cicilan bukan berarti berhenti. Kamu bisa menyesuaikan nilai cicilan tiap bulan sesuai pemasukan aktual. Ini disebut “flexible budgeting”.
Contoh: Pada bulan Januari kamu dapat proyek besar senilai Rp 8.000.000. Kamu menabung Rp 800.000 untuk kurban. Di bulan Februari, hanya dapat proyek kecil Rp 3.000.000. Alih‑alih, kamu turunkan cicilan menjadi Rp 300.000. Selama setahun, total tabungan tetap mencapai target karena ada bulan‑bulan dengan kontribusi lebih tinggi.
Mitos 4: “Simpan semua di satu rekening, nanti kebingungan”
Fakta: Memisahkan dana khusus kurban dan lebaran di rekening terpisah (atau dompet digital) justru memudahkan tracking. Kamu tidak perlu menghitung ulang setiap kali ingin cek saldo utama.
Langkah praktis:
- Buka e‑wallet atau rekening tabungan khusus, beri nama “Kurban‑Lebaran”.
- Setiap kali ada pemasukan, alokasikan persentase (mis. 10 %) langsung ke rekening ini lewat fitur transfer otomatis.
- Gunakan aplikasi Receh untuk mencatat transfer masuk sebagai “pemasukan – tabungan kurban”.
- Review saldo tiap akhir bulan, sesuaikan persentase bila diperlukan.
Mitos 5: “Hitung biaya kurban sekali saja, tidak perlu update”
Fakta: Harga sapi atau kambing bisa berubah, terutama menjelang Idul Adha. Begitu juga harga paket lebaran (oleh‑oleh, baju, kue). Oleh karena itu, lakukan re‑forecast setiap tiga bulan.
Contoh: Pada Maret, harga kambing rata‑rata Rp 5.000.000. Di Mei, harga naik menjadi Rp 5.500.000 karena permintaan. Jika target awalmu Rp 5.000.000, kamu harus menambah Rp 500.000 ke tabungan. Cukup perbarui target di Receh, dan sistem akan menghitung ulang kebutuhan bulanan.
Langkah Praktis Membuat Rencana Cicilan Tahun Penuh
1. Tentukan Total Target
Gabungkan semua kebutuhan kurban (hewan atau uang zakat) dan lebaran (oleh‑oleh, baju, kue). Misalnya:
- Kurban kambing: Rp 5.000.000
- Oleh‑oleh lebaran: Rp 1.500.000
- Baju lebaran keluarga (4 orang): Rp 2.000.000
- Kue kering & parcel: Rp 500.000
Total: Rp 9.000.000.
2. Bagi Target menjadi Cicilan Bulanan
Jika kamu mulai menabung sejak Januari dan ingin selesai pada bulan Agustus (8 bulan), cicilan standar = Rp 9.000.000 ÷ 8 = Rp 1.125.000 per bulan.
3. Sesuaikan dengan Fluktuasi Pendapatan
Gunakan persentase fleksibel: 10 % dari setiap pemasukan masuk ke tabungan kurban‑lebaran. Contoh:
| Bulan | Pemasukan | 10 % (Tabungan) |
|---|---|---|
| Januari | Rp 8.000.000 | Rp 800.000 |
| Februari | Rp 3.500.000 | Rp 350.000 |
| Maret | Rp 6.000.000 | Rp 600.000 |
| … | … | … |
Jika di akhir tahun total tabungan sudah mencapai atau melampaui Rp 9.000.000, kamu siap.
4. Catat Setiap Transaksi di Receh
Masuk ke Receh, buat kategori “Kurban & Lebaran”, lalu pilih “Tambah Pemasukan”. Isi nominal, tanggal, dan pilih sumber (mis. “Transfer dari GoPay”). Dengan catatan otomatis, kamu bisa lihat progres di grafik bulanan.

5. Review dan Optimalkan Setiap Akhir Kuartal
Di akhir setiap tiga bulan, cek:
- Apakah target bulanan sudah tercapai?
- Apakah ada kenaikan harga hewan atau paket lebaran?
- Apakah persentase 10 % masih realistis?
Jika perlu, naikkan persentase menjadi 12 % pada bulan-bulan dengan proyek besar, atau turunkan menjadi 8 % saat pendapatan menurun.

6. Simpan Dana di Tempat Aman dan Siap Pakai
Setelah mencapai target, pindahkan dana ke rekening yang bisa langsung dipakai untuk beli kurban atau belanja lebaran. Jika menggunakan e‑wallet, pastikan saldo cukup dan cek limit transfer.

FAQ Ringkas untuk Freelancer
Apakah cicilan ini mengurangi pajak penghasilan?
Tabungan khusus tidak berpengaruh pada perhitungan pajak. Namun, jika kamu menyalurkan uang kurban secara langsung ke yayasan, kamu dapat mencatatnya sebagai sumbangan yang dapat mengurangi penghasilan bruto pada laporan SPT.
Bagaimana cara mengecek apakah target sudah realistis?
Bandingkan total tabungan yang sudah ada dengan target akhir. Jika selisih lebih dari 10 % dari target, pertimbangkan menambah persentase tabungan atau menambah proyek tambahan.
Apakah boleh menggabungkan cicilan kurban dengan tabungan darurat?
Idealnya pisahkan. Tabungan darurat harus dapat diakses kapan saja, sedangkan dana kurban‑lebaran diperlakukan sebagai dana khusus dengan tujuan yang jelas.

Kesimpulan
Freelancer memang berhadapan dengan pendapatan yang naik‑turun, tapi itu bukan alasan untuk menunda persiapan kurban dan lebaran. Mitos‑mitos yang beredar biasanya membuat kamu menunggu terlalu lama atau menabung secara kaku. Dengan mengubah sikap menjadi fleksibel, memecah target menjadi cicilan yang disesuaikan tiap bulan, serta mencatat semua langkah di aplikasi Receh, kamu bisa menyiapkan dana tanpa mengorbankan cash flow harian.
Mulai sekarang, buat kategori “Kurban & Lebaran” di Receh, tetapkan persentase tabungan, dan pantau progres tiap akhir bulan. Dengan cara ini, ketika Idul Adha atau Lebaran tiba, kamu sudah siap menyambutnya dengan hati tenang—tanpa harus menambah beban hutang atau mengurangi kualitas hidup sehari‑hari.

Selamat mencoba, dan semoga kurban serta lebaranmu lancar serta penuh berkah!
